20 jam yang lalu
Dalam perjalanan menyempurnakan iman, kita sering kali fokus untuk menjauhi dosa-dosa besar yang tampak nyata. Namun, tanpa disadari, ada banyak kebiasaan kecil yang perlahan mengikis kualitas spiritual kita. Sahabat Qur’ani, tahukah Anda bahwa ada beberapa akhlak tercela yang sering dianggap biasa dalam interaksi sosial kita, padahal dalam pandangan syariat, hal tersebut memiliki konsekuensi yang serius?
Kehidupan modern dengan segala kecepatannya terkadang membuat standar moral kita bergeser. Sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, kini sering kali dianggap wajar atas nama tren atau sekadar candaan. Mari kita merenung sejenak, jangan sampai akhlak buruk dalam Islam ini menetap dalam diri dan menjadi penghalang bagi kita untuk meraih rida Allah SWT. Berikut adalah lima hal yang perlu kita waspadai bersama.
1. Lalai dan Meremehkan Amanah
Banyak di antara kita yang memahami amanah hanya sebatas menjaga titipan barang atau uang. Padahal, amanah mencakup hal yang lebih luas, seperti menepati janji, menjaga rahasia, hingga tanggung jawab waktu dalam bekerja. Akhlak tercela yang sering dianggap biasa ini sering muncul dalam bentuk datang terlambat saat janji temu atau tidak menyelesaikan tugas tepat waktu.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat kamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal: 27).
Meremehkan amanah adalah salah satu tanda kemunafikan. Jika kita terbiasa menyepelekan tanggung jawab kecil, maka integritas kita sebagai Muslim akan perlahan runtuh. Menjaga amanah adalah bagian dari akhlak dalam Al-Qur’an yang sangat ditekankan untuk menjaga harmoni sosial dan kepercayaan antarmanusia.
2. Berkata Kasar atau Menyakiti dengan Lisan
Di era digital saat ini, lisan tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga ketikan di media sosial. Sering kali, komentar pedas, sindiran, atau candaan yang merendahkan fisik (body shaming) dikemas dalam bentuk humor. Ini adalah salah satu akhlak tercela yang sering dianggap biasa oleh banyak orang dengan dalih "hanya bercanda."
Padahal, akhlak buruk dalam Islam sangat melarang keras menyakiti perasaan orang lain melalui lisan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling merendahkan atau memberi julukan yang buruk. Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa keselamatan seorang manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Luka fisik mungkin cepat sembuh, namun luka hati akibat lisan yang tajam bisa membekas seumur hidup.
3. Hasad dan Iri Hati yang Tersembunyi
Hasad atau iri hati adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya karena ia "memakan" amal kebaikan seperti api memakan kayu bakar. Di era pamer kemewahan di media sosial, sifat ini sering kali muncul tanpa disadari. Kita merasa tidak senang melihat keberhasilan orang lain atau merasa bahwa diri kita lebih berhak mendapatkan nikmat tersebut.
Sahabat Qur’ani, hasad sering kali dianggap biasa karena sifatnya yang batiniah. Namun, jika dibiarkan, ia akan merusak ketenangan jiwa dan memicu perilaku tercela sehari-hari lainnya, seperti ghibah atau upaya menjatuhkan orang lain. Ingatlah bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah, dan bersikap rida atas ketetapan-Nya adalah obat paling mujarab untuk membersihkan hati dari kotoran hasad.
4. Sifat Sombong dan Merasa Paling Benar
Sombong tidak selalu berarti memamerkan harta. Ada sombong yang lebih halus, yaitu kibr—menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Hal ini termasuk dalam akhlak tercela yang sering dianggap biasa, terutama saat kita merasa lebih paham agama, lebih pintar, atau lebih berpengalaman dibandingkan orang lain, sehingga kita menutup telinga dari nasihat.
Allah SWT sangat membenci kesombongan. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).
Merasa diri paling benar adalah bentuk akhlak buruk dalam Islam yang menutup pintu hidayah. Seorang Muslim yang sejati adalah mereka yang tetap rendah hati (tawadhu), meskipun ia memiliki ilmu atau kedudukan yang tinggi.
5. Menunda Kebaikan dan Meremehkan Dosa Kecil
Kita sering kali menunda bertaubat atau menunda amal saleh dengan pikiran "besok masih ada waktu." Di sisi lain, kita juga sering meremehkan dosa-dosa kecil, seperti membuang sampah sembarangan, berbohong demi kebaikan, atau melanggar aturan lalu lintas. Perilaku tercela sehari-hari ini dianggap sepele karena dampaknya tidak langsung terlihat secara besar.
Namun, kumpulan dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan mengeraskan hati. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, dan sebaliknya, waspadalah terhadap dosa yang dianggap remeh. Menjadikan disiplin dalam menjauhi dosa kecil sebagai bagian dari akhlak dalam Al-Qur’an adalah langkah nyata untuk menjaga kesucian jiwa kita setiap hari.
Muhasabah untuk Akhlak yang Lebih Baik
Sahabat Qur’ani, mengenali berbagai akhlak tercela yang sering dianggap biasa adalah langkah awal menuju perbaikan diri. Kita tidak mungkin menjadi sempurna dalam semalam, namun dengan niat yang tulus untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), Allah akan membimbing kita menuju akhlak yang lebih mulia.
Ingatlah bahwa tujuan diutusnya Rasulullah ﷺ adalah untuk menyempurnakan akhlak. Mari kita bersihkan diri dari berbagai penyakit hati dan berupaya menghiasi keseharian kita dengan sikap jujur, santun, dan rendah hati. Semoga setiap langkah kita selalu dalam lindungan-Nya.