Tilawati

Bentuk Keteladanan Guru Ngaji dalam Kehidupan Sehari-hari


3 hari yang lalu


bentuk-keteladanan-guru-ngaji-dalam-kehidupan-sehari-hari

Dalam dunia pendidikan Islam, sosok pendidik Al-Qur'an memiliki posisi yang sangat sentral. Mereka bukan sekadar penyampai materi tajwid atau makhraj huruf, melainkan figur yang menjadi cermin bagi para santrinya. Kita sering melihat bahwa keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari memiliki dampak yang jauh lebih mendalam dibandingkan kata-kata yang mereka ucapkan di dalam kelas.

Sahabat Qur’ani, ilmu Al-Qur'an adalah ilmu yang hidup. Ia tidak hanya tersimpan dalam lembaran mushaf, tetapi juga terwujud dalam gerak-gerik orang yang membawanya. Seorang guru ngaji memikul amanah besar untuk menerjemahkan nilai-nilai langit ke dalam perilaku bumi. Melalui keteladanan inilah, pendidikan Qur’ani menjadi lebih autentik dan mampu menyentuh relung hati masyarakat.

Berikut adalah 5 bentuk nyata keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi inspirasi bagi kita semua.

1. Keteladanan Guru Ngaji dalam Akhlak dan Tutur Kata

Salah satu ciri utama seorang pengajar Al-Qur'an adalah lisan yang terjaga. Keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari sangat terlihat dari bagaimana mereka berkomunikasi. Mereka cenderung menjauhi perkataan sia-sia, ghibah, maupun kata-kata kasar. Tutur katanya menyejukkan, penuh dengan hikmah, dan selalu mengandung kejujuran.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Sebagai pewaris risalah nabi, seorang pendidik Al-Qur'an berusaha mengadopsi teladan akhlak Rasulullah yang selalu berkata lembut namun tegas dalam kebenaran. Bagi santri, melihat guru yang selalu santun adalah pelajaran adab yang paling nyata.

2. Keteladanan dalam Kedisiplinan dan Tanggung Jawab

Waktu adalah amanah yang besar. Keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari tercermin dari bagaimana mereka sangat menghargai waktu, terutama saat jadwal mengajar tiba. Kedisiplinan mereka dalam hadir tepat waktu bukan sekadar untuk menepati janji, tetapi bentuk tanggung jawab kepada Allah atas ilmu yang mereka emban.

Kedisiplinan ini memberikan pesan kuat kepada para santri bahwa Al-Qur'an harus diprioritaskan di atas kepentingan lainnya. Melalui pendidikan Qur’ani yang disiplin, santri belajar bahwa keberkahan ilmu hanya akan diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh dan menghargai setiap detik dalam proses belajar.

3. Keteladanan dalam Kesederhanaan dan Keikhlasan

Banyak guru ngaji yang hidup dalam kesederhanaan, namun tetap memiliki kekayaan hati yang luar biasa. Mereka mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kemewahan dunia, melainkan dari ketulusan dalam beramal. Keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari dalam hal keikhlasan sangat terlihat dari semangat mereka mengajar, terkadang tanpa mengharap imbalan materi yang besar.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim). Keikhlasan sang guru menjadi ruh yang membuat pembelajaran Al-Qur’an terasa begitu tenang dan meresap ke dalam jiwa santri.

4. Keteladanan dalam Interaksi Sosial dan Kepedulian

Seorang pembawa Al-Qur'an bukanlah orang yang mengisolasi diri. Justru, keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan pada peran aktif mereka di masyarakat. Mereka menjadi orang pertama yang menjenguk tetangga yang sakit, membantu orang yang kesulitan, serta mendamaikan perselisihan.

Kepedulian sosial ini menunjukkan bahwa akhlak Qur’ani adalah akhlak yang menebar manfaat. Sahabat Qur’ani, dengan melihat guru mereka peduli pada sesama, para santri memahami bahwa tujuan belajar Al-Qur'an adalah untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana pesan eksplisit dalam banyak ayat tentang fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

5. Keteladanan dalam Istiqamah Beribadah dan Berakhlak Qur’ani

Puncak dari segala teladan adalah keistiqamahan. Keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari dibuktikan dengan konsistensi mereka dalam beribadah, baik yang wajib maupun sunnah. Mereka adalah orang yang pertama kali berada di shaf shalat dan yang paling rajin berinteraksi dengan mushaf di waktu-waktu senggangnya.

Bagi seorang guru ngaji, istiqamah bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud rasa syukur. Ketika seorang guru istiqamah dalam kebaikan, aura kewibawaan spiritualnya akan terpancar secara alami. Ini membuktikan bahwa teladan akhlak yang kokoh dibangun dari hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta melalui ibadah yang tak terputus.

Meneladani Sang Penjaga Wahyu

Sahabat Qur’ani, guru ngaji adalah mutiara terpendam dalam masyarakat kita. Melalui keteladanan guru ngaji dalam kehidupan sehari-hari, kita belajar bahwa Al-Qur’an adalah panduan yang sangat aplikatif dan indah jika dipraktikkan dengan benar. Mereka tidak hanya mendidik lisan kita untuk fasih membaca, tetapi juga mendidik hati kita untuk luhur dalam bersikap.

Mari kita muliakan para guru kita dengan cara meneladani setiap kebaikan yang mereka contohkan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para guru ngaji dan memberikan kita kemampuan untuk senantiasa berakhlak Qur’ani.