Motivasi

Berakhlak Dulu Baru Berilmu


sehari yang lalu


berakhlak-dulu-baru-berilmu

Dalam perjalanan sejarah peradaban umat manusia, sejak dulu hingga sekarang orang-orang yang memiliki ilmu menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan di masyarakat. Ilmu menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Manusia menjadi makhluk yang lebih unggul karena memiliki kemampuan dalam penguasaan ilmu. Derajat manusia akan terangkat karena ketinggian ilmu. Sementara makhluk yang lain, termasuk jin dan malaikat, tidak diberikan ilmu seluas yang dimiliki manusia. 

Kisah keunggulan Nabi Adam dibandingkan makhluk lain  diceritakan dalam Al-Qur’an dengan sangat menakjubkan. 

”Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS Al-Baqarah: 31-32). 

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal ini merupakan sebutan yang dikemukakan oleh Allah SWT. Di dalamnya terkandung keutamaan Nabi Adam atas malaikat berkat apa yang telah dikhususkan oleh Allah baginya berupa ilmu tentang nama-nama segala sesuatu. Sementara malaikat tidak memiliki pengetahuan sebagaimana Adam. Maka, malaikat diperintahkan untuk tunduk kepada Adam.

Kemuliaan kedudukan orang yang berilmu disampaikan oleh Rasulullah SAW dan diumpamakan sebagai orang yang mewarisi ilmu para nabi. “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR At-Tirmidzi). 

Identitas suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh seberapa cintanya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Bangsa yang sungguh-sungguh dalam pengembangan ilmu identik dengan bangsa maju. Sebaliknya bangsa yang kurang menjunjung ilmu identik dengan bangsa tertinggal. 

Mengingat sangat pentingnya ilmu dalam menopang kebahagiaan manusia, Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk tidak berhenti belajar dan belajar sejak dari kandungan sampai liang lahat. Al-Qur’an menganjurkan agar setiap hari berdoa untuk senantiasa bertambah ilmu. “Dan katakanlah ‘Ya Rabbi berilah aku tambahan ilmu’.” (QS Thaha: 114).

Selayaknya generasi umat Islam berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih ilmu seluas-luasnya. Didasari dengan keyakinan bahwa orang-orang yang berilmu akan diberikan keunggulan dan derajat yang mulia. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an. “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS Al-Mujadalah, 58: 11).  

Meskipun demikian, penyandang ilmu akan bermartabat dan memiliki kedudukan mulia dengan persyaratan yang harus melekat pada dirinya. Ketika orang yang berilmu itu tidak dibalut dengan akhlak, predikat kemuliaan tersebut akan sia-sia.
Dalam kitab Al Hikam karya Syekh Ahmad bin Atoillah bab ilmu disebutkan bahwa lebih baik berkawan dengan orang bodoh yang yang mampu menahan hawa nafsu daripada berkawan dengan orang berilmu tetapi tidak mampu menahan hawa nafsu. Apalah artinya suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau mempimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan. 

Al-Qur’an mengingatkan janganlah ada di benak orang yang berilmu sifat sombong, merasa paling pandai, dan menganggap orang lain rendah. “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa” (QS An-Najm: 32).

Sayangnya, manusia modern sekarang ini banyak yang lalai. Jiwanya terjangkit rasa sombong, cenderung menempatkan dirinya sebagai penakluk dan penguasa alam.  Setelah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tumbuhnya industrialisasi dalam berbagai bidang, perilaku manusia makin jauh dari ketentuan nilai-nilai akhlak. 

Contoh konkret yang sangat terasa dampak negatif dari teknologi adalah penggunaan teknologi dan komunikasi. Dengan media sosial yang disediakan dalam aplikasi digital itu, berbagai macam informasi bernuansa permusuhan dengan kata-kata kasar dan hoaks bertebaran setiap saat. Bahasa dan ungkapan yang digunakan di media sosial itu sangat jauh dari nilai-nilai akhlak dan kepribadian bangsa Indonesia. Judi online dan penipuan berbasis digital semakin marak setiap hari.

Mencermati berbagai problem sosial yang ditandai dengan perilaku kriminal yang semakin hari secara kuantitas makin marak, perlu kiranya seluruh komponen masyarakat untuk melakukan renungan yang sangat mendalam. Memikirkan dan berkontribusi positif bagaimana agar situasi ini tidak makin menggejala. Jangan samapai perkembangan ilmu pengetahuan akan membawa mala petaka bagi kehidupan di kemudian hari.

Para pengambil kebijakan serta penyelenggara pendidikan kiranya perlu lebih fokus memikirkan agar perkembangan ilmu pengetahuan di negara yang kita cintai ini makin membawa berkah bagi kehidupan umat manusia. Untuk itu, pembenahan sistem pendidikan dan pembelajaran agar senantiasa mengutamakan budi pekerti dan akhlak mulia tidak boleh ditunda.