4 tahun yang lalu
Tanya:
Mohon izin bertanya, Ustaz. Ada sebagian guru yang sering marah-marah di kelas sehingga para santri ketakutan dalam proses pembelajaran. Guru yang demikian ini bagaimana, menurut Ustaz? Atas pencerahannya, saya ucapkan terima kasih.
Ustazah Salsa, Surabaya
Jawab:
Wa’alaikumsalam, terima kasih Ustazah atas pertanyaannya.
Salah satu tugas guru adalah menjadi pendidik (edukator), yaitu mengarahkan santri pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian sempurna, mengisi otak santri dengan pengetahuan yang benar, mengisi hatinya dengan akidah, dan pribadinya dengan akhlakul karimah atau perilaku yang baik.
Namun, ada sebagian guru yang kurang memahami tugas di atas sehingga melakukan sesuatu yang menyalahi tupoksi guru, antara lain ada sebagian guru yang melakukan kebiasaan kurang baik, yaitu tidak menghargai santri karena merasa dirinya lebih pintar. Padahal, mereka mengetahui bahwa santri adalah insan yang memiliki harga diri dan kehormatan, yang membutuhkan kasih sayang dan keramahan.
Terkadang ada guru yang memarahi santri yang sedikit melakukan kesalahan di depan kelas. Kadang ada pula guru yang mengekpresikan kemarahannya dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak layak diucapkan seorang guru. Guru tersebut tidak menyadari bahwa akibat dari ucapannya menimbulkan perasaan kurang baik dan memengaruhi psikologis santri sehingga menghambat efektivitas pembelajaran.
Santri yang melakukan kesalahan memang sebaiknya ditegur dan diluruskan. Tetapi, cara mengingatkannya haruslah tetap memperhatikan perasaan santri. Sebab, para santri juga memiliki rasa tersinggung, malu, dan punya harga diri serta kehormatan.
Kondisi-kondisi semacam itu membuat santri tidak termotivasi dan tidak bergairah untuk ngaji. Mereka akan terluka perasaannya dan terdorong untuk membenci guru yang mengajarnya, serta terkadang membuat tingkah di kelas. Jika hal ini terjadi, pembelajaran tidak dapat terlaksana secara efektif.
Berkenaan dengan hal itu, seorang guru yang baik akan sangat menghargai santrinya. Ia memperlakukan santrinya sebagai orang yang memiliki harga diri dan kehormatan.
Guru tidak perlu takut dengan pendapat yang mengatakan, “Dengan menghormati santri, wibawa guru turun.” Menurut kami, pendapat tersebut bisa kita hindari. Artinya, santri adalah manusia seperti kita. Jika kita dihormati orang lain, kita akan menghormatinya pula. Demikian juga santri, jika kita menghormatinya, mereka akan menghormati kita.
Cobalah kita berdiri di depan cermin lalu tersenyumlah, di cermin akan tampak mantul senyuman kita. Itulah gambaran penghormatan kita kepada para santri.
Menghormati santri bukan berarti guru bersikap serba boleh terhadap apa yang dilakukan santri karena khawatir menyinggung perasaan mereka. Sebab, justru hal itulah yang akan menjadikan santri tidak bisa dikendalikan. Maka, guru harus menunjukkan kewibawaannya pada santri.
Sebab, dengan kewibawaan itulah, guru akan menyampaikan ilmunya kepada para santri dari hati yang dalam, ikhlas dalam menyampaikan ilmunya kepada santri.
Demikian jawaban kami. Semoga kita termasuk guru yang terhindar melakukan kemarahan kepada santri, namun justru keramahan yang kita berikan kepada santri. Wallahu a’lam bi shawab.