Motivasi

Hidup Itu Lucu


sebulan yang lalu


hidup-itu-lucu

 

Sudah lama dia menelepon saya, mencari waktu yang tepat untuk diajak makan bersama. Beberapa kali memilih hari, tapi memang belum cocok, sehingga ada saja sebab yang mengurungkan rencana yang sudah dibuat.

Suatu ketika ketemulah hari baik, dia melihat kendaraan saya melintas di ujung gang, lalu semenit kemudian dia menelepon saya, mengajak untuk langsung cabut keluar lagi. Saya langsung setuju dan minta waktu ganti baju barang 15 menit. 

Dia adalah seorang sahabat yang dekat, tinggal bertetangga di perumahan yang sama, meskipun beda tipe. Usaha di bidang tambang yang digeluti sejak lama, diperjuangkannya dengan keras, jatuh bangun dijalaninya dengan tekad baja tanpa rasa menyerah.

Sambil menunggu menu makanan yang telah kami pesan disajikan oleh pramusaji, dia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya hingga meraih kesuksesan di saat ini. 

Perusahaan tambang yang dimilikinya dirintis dari nol, ragam orang dan tantangan telah dihadapinya. Preman yang sangar, pejabat yang nakal, dan rekan kerja yang licik sudah bukan hal yang mengejutkan. Perusahaannya telah memasok perusahan besar pembuatan keramik di Jawa dan luar Jawa. Truk-truk besar dan beragam alat berat telah menjadi aset yang dimilikinya. Rekan kerjanya sudah luas, baik latar belakang pendidikan, etnis, maupun sosial ekonomi. Bahkan, tidak jarang dia berbisnis dengan orang asing.

Dia bisa membeli mobil sport made in Eropa atau mobil mewah buatan Jerman, tetapi ia tetap nyaman dengan mobil merek dari Jepang. Dia juga bisa membeli rumah di kompleks elit di Surabaya Barat atau Surabaya Timur, tetapi dia merasa nyaman tinggal bertetangga dengan kita, di sekitar masjid.

“Aku kalau lagi mikir sendiri, ngguyu-ngguyu dewe (ketawa-ketawa sendiri). Bagaimana tidak, kalau saya meeting dengan pimpinan perusahaan atau rekan bisnis, mereka orang-orang penting Pak Mim, hanya menunggu kedatangan saya, pendapat saya yang mereka tunggu. Mereka tidak akan mengambil keputusan tanpa saya. Padahal, wonge sing melu rapat iku dasian kabeh atau klambian sing larang-larang iku, rapate serius banget, kadang di hotel atau di ruang mewah, ngadep mejo gedhe, suasane hening, diskusine methentheng. Tapi, aku tetep nyantai, yo wis ngene iki (Padahal orang yang ikut rapat semua mengenakan dasi, atau berpakaian yang mahal, rapatnya serius sekali, terkadang di hotel atau ruang rapat mewah, menghadap meja besar, suasananya henig, diskusinya juga tegang, tetapi saya tetap santai seperti ini). Tapi, setelah sampai rumah aku ngobrol, guyon karo (canda sama) Kamid (satpam), Kaeran (satpam)m atau Kamirin (tukang sampah kampung),” paparnya sambil tertawa lebar.

”Urip iki ancen lucu temen, aku di kerjoan dadi wong penting, omonganku sak kecap dadi keputusan, tetapi ketika di rumah, ngobrol guyon semalam sama arek-arek iku, crito perkara gak penting, tapi masio ngono aku yo seneng…” (”Hidup ini memang benar-benar lucu, saya di tempat kerja jadi orang penting, ucapanku menjadi keputusan, tetapi sesampainya di kampung, ngobrol bercanda semalaman dengan anak-anak itu, cerita-cerita perkara tidak penting, dan saya merasa senang,”)ucapnya dengan serius.
  
Salah satu syarat merasakan kebahagiaan dalam hidup adalah mampu menikmati apapun yang ada dalam genggamannya. Apa pun wujudnya, bisa waktu, harta, kedudukan, kawan, keluarga, dan apa pun yang telah Allah SWT takdirkan untuk kita. Ada orang yang dikaruniai banyak harta, hidupnya menderita, demikian pula halnya ada orang yang memiliki sedikit harta, hidupnya juga susah. Tetapi, ada juga orang yang berada dalam keadaan sebaliknya.

Mereka yang mampu menikmati hidup akan memperoleh kebahagiaan tanpa satu pun syarat yang mengikat karena yakin bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Menjamin, Yang Maha Menyayangi, dan Yang Maha Melindungi. Keyakinan kitalah sesungguhnya yang dapat menjamin ada atau tidaknya rasa bahagia dapat kita nikmati dalam hidup kita. Bukankah tidak ada satu pun makhluk hidup di atas bumi kecuali Allah SWT yang menjamin rezekinya? 

Wallaahu a’lam bisshawab.