Hikmah

Kaum Milenial yang Berdedikasi untuk Agama dan Bangsa


7 bulan yang lalu


kaum-milenial-yang-berdedikasi-untuk-agama-dan-bangsa

Saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi, yakni ledakan penduduk dengan jumlah usia produktif sangat tinggi. Usia yang melingkupi kaum remaja saat ini sampai memasuki usia dewasa kelak. Kisaran tahun 2030.

Bonus ini menguntungkan untuk kemajuan pembangunan bangsa jika bisa mengelolanya dengan baik. Di sisi lain, hal ini akan menjadi petaka kalau salah dalam menanganinya dan tidak ada persiapan perencanaan yang matang. Potensi yang besar itu tidak dapat disalurkan kepada kepentingan yang lebih produktif.

Semua pihak sangat diperlukan kepedulian untuk ikut serta sumbangsihnya. Hal ini melibatkan segala kewenangan dan kemampuan yang dimiliki demi menyiapkan generasi milenial itu agar kelak menjadi insan yang bermanfaat bagi bangsa dan agamanya.   

Kaum milenial sejak dini perlu mempersiapkan diri dengan bekal hidup multitalenta. Caranya, menyiapkan keterampilan dengan berbagai macam pilihan. Masa depan yang akan dihadapi tidak dapat diperidiksi secara matematis. Tidak selalu sesuai antara yang dicita-citakan dengan kenyataan. Semua penuh dengan kemungkinan serta pilihan yang memaksa adanya. Mereka yang memiliki bermacam keterampilan hidup akan dapat dengan mudah menyesuaikan keadaan yang diperlukan.

Keterampilan hidup bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal dengan berbagai jurusan disiplin ilmu yang diminati. Bisa juga melalui latihan keterampilan secara mandiri atau terprogram yang dilakukan oleh lembaga  kompeten pemerintah atau swasta. Kuncinya terletak kepada kaum muda yang bersemangat mencari ilmu dan mau berubah lebih baik dalam mencapai sukses.

Meski demikian, keterampilan dan keahlian saja belum cukup untuk menghadapi tantangan hidup. Milenial generasi masa depan diharapkan memiliki sikap sebagai berikut.

 Pertama, mampu mengedepankan moral sebagai pertimabangan dalam segala tindakan dan perbuatannya. Kekuatan akhlak menjadi hiasan pada dirinya. Hal ini tampak dalam segala perilaku dan tindakan. Orang lain merasa nyaman, senang, serta mendapat pencerahan ketika bekerja sama dan berhubungan saling menguntungkan dengan dirinya. 

Kedua, jujur, santun, namun tetap kritis. Ia memiliki keluwesan dalam mengemukakan pendapat, menghormati pandangan orang lain walaupun berbeda, memiliki etos kerja tinggi dan cerdas untuk menentukan masa depannya dengan berbagai macam alternatif pilihan aktivitas hidup.

Ketiga, memiliki dan mengembangkan kecerdasan emotional spiritual quotient (ESQ) yang lebih dominan dan didukung oleh kecerdasan intelektual. Memiliki kepekaan sosial tinggi yang didasari oleh pengamalan keyakinan agamanya. 

Dalam hal ini, Rasulullah SAW memberikan teladan kepada umatnya dengan karakter yang sangat terpuji. 

1.     Shiddiq, yaitu dapat dipercaya yang maknanya selaras antara perkataan dan perbuatannya. 
2.     Amanah, yaitu memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap segala perbuatannya baik terhadap sesama manusia terlebih kepada Tuhannya
3.     Tabligh, mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan baik serta dapat mengomunikasikan dengan cara-cara yang damai dan menyejukkan
4.     Fathonah atau cerdas, yaitu mampu berpikir kritis dan memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapi baik untuk diri dan orang lain
5.     Khusyuk, yaitu dalam berperilaku sehari-hari akan tampil sangat santun menghormati lingkungannya serta tidak sombong.

Tujuan dari segala usaha menguatkan jati diri milenial itu jangan sampai keliru. Akhirnya, segala ikhtiar tersebut semata-mata untuk mendedikasikan diri terhadap agama dan bangsa. Pengorbanan tenaga, pikiran, waktu untuk menggapai cita-cita luhur sukses dunia dan akhirat. Aamiin.