Konsultasi Agama

Meraih ”Lailatul Qadar” di Luar Ramadhan


sebulan yang lalu


meraih-lailatul-qadar-di-luar-ramadhan

Tanya: 
Assalamu’alaikum wr wb.

Dalam sebuah acara, penceramah mengatakan bahwa “lailatul qadar” bisa saja diraih di luar Ramadan. Bagi saya, itu mustahil. Karena itu, saya sama sekali tidak tertarik mendengarkan lanjutan ceramahnya. Bagaimana tanggapan Bapak Pengasuh? Demikian, atas jawaban Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Khoirul Ghibran - Jakarta 


Jawab:

Wa’alaikum salam wr wb.

Wah, saya baru dengar ada materi ceramah demikian. Terima kasih atas pertanyaan Pak Khoirul Ghibran. Saya mohon maaf tidak bisa memberi tanggapan terbaik, sebab saya tidak tahu isi lengkap ceramah itu. Tapi, saya tetap berprasangka baik. Ada kemungkinan yang dimaksud ustaz tersebut bukan lailatul qadar yang sebenarnya, tapi pahala atau kemuliaan yang setara dengan lailatul qadar pada bulan Ramadan. Karena itu, dalam judul jawaban ini, kata “lailatul qadar” saya letakkan di antara dua tanda petik. Jadi, yang dimaksud ustaz itu adalah pelipatan pahala atau kemuliaan yang setara atau bahkan lebih dari lailatul qadar, sekalipun di luar Ramadan. Jika itu yang dimaksud, pernyataan tersebut benar. Sebab, Allah SWT berfirman,

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

“Sungguh hanya orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan” (QS Az Zumar [39]:10).

Berdasar ayat ini, Allah memberi pahala tanpa batas, bahkan bisa melebihi pahala seribu bulan kepada orang sabar, tidak mengeluh, tidak merasa terbebani dalam menjalankan perintah Allah dan larangan-Nya. Juga sabar, tidak mengeluh, bahkan dengan senang hati menerima cobaan seberat apa pun. 

Ia rida dan sangat happy dengan apa pun cobaan Allah. Sebab, ia yakin, semua takdir Allah selalu terbaik bagi dunia dan akhiratnya. Ia juga yakin, derita dunia sejatinya adalah kasih dan ampunan Allah serta pembebas derita di akhirat. Nah, orang demikianlah yang mendapat pahala berlipat tanpa batas, sebab ia telah menjadikan Allah sebagai sumber kebahagiaan sebagaimana sumpah yang selalu diucapkan, “radhitu billahi Rabba” (aku rida dan senang menerima apa pun perintah dan cobaan Allah). 

Kedua, dalam surat Al-Qadar dijelaskan, dengan lailatul qadar, seseorang meraih ”salam,” yaitu hati yang damai, tenang, dan semangat beribadah. Untuk meraih hati yang demikian, tidak harus dalam Ramadan, tapi kapan saja, antara lain dengan salat yang khusyuk. Nabi SAW bersabda, 

اِنَّمَا حُبِّبَ اِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ
“Saya dikarunian cinta kepada wanita dan wewangian dan kedamaian hatiku saya dapatkan ketika salat” (HR An-Nasa-i dari Anas ra).

Demikian, semoga jawaban ini memuaskan bapak dan menjauhkan kita dari berburuk sangka terhadap penceramah. Wallahu ta’ala a’lam.