sehari yang lalu
Ia lahir dalam keadaan yang lazim sebagaimana layaknya bayi yang lahir, tetapi ketika dalam perkembangan tampaklah kalau dirinya mengalami hambatan, istilah yang mendekati adalah slow leaner. Ketika memasuki usia sekolah, orang tuanya memasukkan ke madrasah ibtidiyah (MI) setingkat SD. Hanya MI itu sekolah yang ada di kampung. Kedua orang tuanya menerima keadaan ananda, beberapa kali tidak naik kelas, orang tuanya menerima dengan penuh rasa terima kasih kepada semua guru yang telah berkenan menerima dan mendidik putranya.
Ia mampu sekolah hanya sampai jenjang SMP, selanjutnya ia bantu-bantu tetangga bekerja sebagai tukang sapu jalan. Beberapa tahun kemudian ia diankat sebagai tukang sapu (cleaning service) di sebuah kantor instansi pemerintah. Berapapun gajinya ia terima dengan suka cita, begitu pula dengan kedua orang tuanya, karena ananda diberi pekerjaan.
Tiba saatnya menikah, Allah SWT mempertemukannya dengan gadis salihah yang bersedia menerima dia sepenuhnya. Rumah tangganya berjalan dengan baik, melahirkan dua anak, laki-laki dan perempuan. Allah SWT menganugerahkan kepada kedua anaknya kemampuan belajar yang jauh lebih baik daripada orang tuanya, yang sulung sudah kuliah dan yang bungsu sekolah tingkat SMA.
Bahkan, secara ekonomi tergolong cukup. Betapa tidak, rumah yang ditinggali cukup nyaman dengan ukuran yang cukup luas, kebutuhan dasarnya selesai, pendidikan anaknya terpenuhi dengan baik, membeli kendaraan untuk kerja dan tidak terdengar berutang pada orang lain.
Istrinya dikaruniai Allah keterampilan memijat. Karena keterampilannya dan komunikasinya baik, maka pelanggannya sering datang dari luar lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa kali para pelanggan yang membutuhkan jasanya datang menjemput dengan mobil sehingga ketidakmampuannya mengendarai motor menjadi nikmat yang sangat membahagiakan.
Tidak sepatah kata pun keluh kesah keluar dari pembicaraannya, selama mengobrol dengan istri. Dari awal hingga akhir obrolan, kalimat yang keluar adalah “alhamdulillah, kulo nrima (saya terima).”
Bila menyaksikan perjalanan hidupnya sejak kanak-kanak hingga menjadi orang tua hari ini, sungguh menjadi pelajaran dari Allah yang sangat sulit dicerna oleh akal. Apalagi didekati dari perspektif teori ekonomi dan finansial, sepertinya hanya “sial”nya yang tertinggal. Keduanya tidak memiliki modal fisik, material, dan intelektual yang memenuhi syarat untuk meraih keberhasilan, dapat bertahan hidup saja sudah untung.
Modal besar keduanya adalah rasa berterima dan kesanggupan bekerja keras, tujuan hidupnya semata-mata untuk bertahan hidup dan tidak membebani orang lain. Hingga saat ini dan seterusnya Allah Yang Maha Pengasih memberinya hidup berkecukupan dan berkah.
Sesungguhnya sikap menerima bukan sikap pesimistis atau putus asa, tetapi justru sebaliknya, yaitu sikap optimistis menghadapi masa depan. Dengan sikap menerima, berarti menganggap segala kekurangan yang sudah ada di “tangannya” sudah selesai sehingga perhatian dan energinya fokus disiapkan untuk masa selanjutnya.
Memang sebagian orang masih ada yang khawatir, bila memiliki sifat menerima, maka hidupnya akan mandek dan tidak maju berkembang. Bagi mereka sikap menerima identik dengan ketidakberdayaan dan sikap seadanya, pasif tidak bersedia mengerahkan seluruh potensi dalam dirinya.
Ketidakmampuan memiliki sikap berterima justru menjadikan beban tambahan dalam setiap langkah. Fokus pada kekurangan akan menutup rasa menghargai pada hal-hal lain yang menjadi kelebihan setiap orang. Bila fokus pada kekurangan, maka langkah yang diambil adalah bagaimana menutup kekurangan sehingga menutup peluang untuk memanfaatkan kelebihan yang telah dimiliki secara optimal menghadapi tantangan yang datang. Hasbunallah ni’mal wakil….