20 jam yang lalu
Setiap kali hilal Ramadhan tampak, suasana di masjid, mushalla, hingga sudut-sudut rumah berubah menjadi riuh dengan lantunan ayat suci. Fenomena tadarus di bulan Ramadhan menjadi pemandangan ikonik yang menyejukkan hati. Namun, di tengah semangat mengejar target khatam yang sering kali dipasang dengan tinggi, muncul sebuah pertanyaan reflektif: apakah aktivitas ini telah menjadi kebutuhan ruhani yang menghidupkan jiwa, atau sekadar perlombaan angka untuk mencapai target tahunan?
Sahabat Qur’ani, interaksi kita dengan kalamullah di bulan suci ini seharusnya menjadi momen paling intim antara seorang hamba dengan Penciptanya. Menjadikan tadarus di bulan Ramadhan sebagai prioritas adalah hal yang mulia, namun memastikan bahwa setiap ayat yang dibaca meresap ke dalam sanubari adalah sebuah keharusan spiritual yang tidak boleh terabaikan.
1. Makna Tadarus sebagai Interaksi Hidup dengan Al-Qur’an
Secara bahasa, kata "tadarus" berasal dari akar kata darasa yang berarti mempelajari, meneliti, atau mendalami. Ini menunjukkan bahwa tadarus di bulan Ramadhan bukan sekadar aktivitas lisan yang mengalir cepat, melainkan sebuah interaksi dengan Al-Qur’an yang hidup.
Ketika kita melakukan tadarus, kita sedang berdialog dengan Allah SWT. Ada proses menyimak, memahami, dan memperbaiki bacaan. Makna mendalam ini mengajarkan kita bahwa membaca Al-Qur’an adalah cara kita membedah isi hati melalui petunjuk langit. Jika kita memahami makna ini, maka aktivitas tadarus tidak akan terasa melelahkan, melainkan menjadi sesi "curhat" spiritual yang menenangkan.
2. Ramadhan sebagai Bulan Turunnya Al-Qur’an dan Momentum Memperbanyak Tilawah
Mengapa tadarus di bulan Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya terletak pada sejarah turunnya wahyu itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185:
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)..."
Karena Ramadhan adalah "ulang tahun" diturunkannya mukjizat terbesar, maka memperbanyak tilawah Al-Qur’an di Ramadhan adalah bentuk syukur terbaik. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan betapa beliau meningkatkan intensitas interaksinya dengan Al-Qur’an melalui Malaikat Jibril setiap malam di bulan suci. Momentum ini adalah waktu di mana pintu-pintu langit terbuka lebar, menjadikan setiap huruf yang kita baca memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
3. Bahaya Menjadikan Tadarus Hanya sebagai Target Tanpa Tadabbur
Sering kali, Sahabat Qur’ani, kita terjebak pada keinginan untuk cepat khatam sehingga mengabaikan kualitas bacaan. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk membaca dengan cara tertentu, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Muzzammil: 4:
"...Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)."
Membaca terlalu cepat demi mengejar target dapat menghilangkan esensi tadabbur. Dalam QS. Shad: 29, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan agar ayat-ayatnya direnungkan (liyad-dabbaru ayatih). Jika tadarus di bulan Ramadhan hanya difokuskan pada kecepatan lisan, hati mungkin tidak sempat menangkap pesan-pesan cinta dan peringatan Allah. Kehilangan makna tadabbur berarti kehilangan peluang untuk mendapatkan hidayah yang bisa mengubah hidup kita.
4. Menjadikan Tadarus sebagai Kebutuhan Hati, Bukan Sekadar Rutinitas
Kita perlu mengubah paradigma: Al-Qur’an adalah asupan bagi ruhaniah, sama seperti makanan adalah asupan bagi jasmaniah. Seseorang yang menjadikan tadarus di bulan Ramadhan sebagai kebutuhan spiritual akan merasa "lapar" jika satu hari saja terlewat tanpa membaca ayat-ayat-Nya.
Keutamaan membaca Al-Qur’an terletak pada ketenangan yang dihasilkannya. Saat hati sedang gundah, tilawah menjadi obat. Saat pikiran sedang buntu, ayat-ayat Allah menjadi solusi. Dengan menjadikan tadarus di bulan Ramadhan sebagai kebutuhan, kita tidak lagi merasa terbebani oleh jumlah lembaran yang harus diselesaikan, melainkan menikmati setiap detik kebersamaan dengan cahaya Allah.
5. Strategi Menjaga Konsistensi Tadarus sebelum, selama, dan setelah Ramadhan
Agar tadarus di bulan Ramadhan memberikan dampak jangka panjang, diperlukan strategi yang tepat. Pertama, jangan menunggu waktu luang, tapi luangkanlah waktu. Kedua, gunakan metode one day one juz jika mampu, namun utamakan tartil dan pemahaman makna meskipun sedikit.
Ketiga, libatkan hati dalam interaksi dengan Al-Qur’an. Bacalah terjemahannya sesekali agar pesan Allah sampai ke pikiran kita. Strategi ini membantu kita menjaga konsistensi tilawah Al-Qur’an di Ramadhan. Ingatlah bahwa kesuksesan tadarus bukan diukur dari seberapa banyak kita khatam, tetapi seberapa besar perubahan akhlak kita setelah Ramadhan berakhir. Konsistensi yang dibangun di bulan suci harus menjadi fondasi untuk terus mencintai Al-Qur’an di bulan-bulan lainnya.
Sahabat Qur’ani, mari kita jadikan momentum tadarus di bulan Ramadhan tahun ini sebagai ajang perjumpaan hati yang tulus dengan Allah SWT. Angka khatam memang indah sebagai pencapaian, namun getaran iman dalam hati saat meresapi satu ayat jauh lebih bernilai di hadapan-Nya.
Sudah saatnya kita menempatkan keutamaan membaca Al-Qur’an di atas segala kepentingan duniawi. Jadikanlah setiap hembusan napas di bulan suci ini selaras dengan lantunan wahyu-Nya. Semoga setiap huruf yang kita baca menjadi saksi pembela di akhirat kelak dan menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan kita selamanya.