19 jam yang lalu
SURABAYA — Jarak membentang tak menjadi penghalang bagi para pendidik Al-Qur'an untuk terus merawat sanad keilmuan. Semangat thalabul ilmi ini tecermin dari antusiasme 120 guru ngaji dari berbagai penjuru Nusantara yang berkumpul secara virtual dalam "Webinar Silaturahim Pecinta Al-Qur’an", Ahad (27/9/2026). Mengusung tema Ngaji Tajwid dan Matan Jazariyah, majelis daring via Zoom Meeting ini menjadi wadah berharga untuk menjaga kemurnian tata cara membaca kitab suci.

Jalannya majelis keilmuan yang dipandu oleh Ustadz Imam Safi’i, M.Pd. selaku pembawa acara ini menghadirkan pakar Al-Qur'an, Dr. KH. Mudawi Ma’arif, Lc., M.A. sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparan awalnya, KH. Mudawi mengurai makna fundamental dari tiga istilah yang kerap mewarnai interaksi dengan Al-Qur'an. Beliau menjelaskan bahwa qiraah berarti aktivitas membaca secara umum, sementara tilawah merujuk pada rutinitas membaca ayat suci secara berkesinambungan. Adapun ada’, merupakan proses membaca yang dilakukan secara talaqqi atau berhadapan langsung dengan seorang guru.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tradisi keilmuan Al-Qur'an diwariskan melalui proses bimbingan lisan secara langsung, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat yang kemudian diteruskan secara estafet lintas generasi. Oleh karena itu, belajar kepada guru yang mutqin (berkompetensi tinggi) adalah syarat mutlak agar ketepatan lafaz tetap terpelihara sesuai kaidah aslinya.
Memasuki sesi inti, pemaparan semakin mengerucut pada bedah keilmuan tajwid yang mendetail. Para peserta diajak menyelami urgensi ketelitian dalam melafalkan setiap huruf hijaiyah, karena setiap huruf memiliki hak dan mustahaq-nya yang tidak bisa disamaratakan. Beberapa poin utama yang menjadi fokus kajian meliputi:
*Pemahaman mendalam terkait makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifatnya
*Ketepatan kadar mad (panjang bacaan), ghunnah (dengung), serta kaidah ikhfa'
*Presisi pengucapan huruf tebal (tafkhim) dan tipis (tarqiq)
Sebagai studi kasus praktis, KH. Mudawi mencontohkan betapa pentingnya menjaga karakter bunyi huruf saat berstatus sukun (mati). Beliau menyoroti lafaz مُسْتَقِيْم, di mana posisi rongga mulut dan pelafalan harus benar-benar dijaga agar tidak melenceng dari pakem tajwid yang shahih.

Momentum silaturahim keilmuan ini bukan sekadar ajang transfer ilmu, melainkan wujud penguatan kapasitas para asatidz. Melalui webinar nasional ini, seluruh peserta diharapkan semakin terpacu untuk senantiasa istiqamah memoles kualitas bacaan (tahsin) dan memperdalam literasi ilmu tajwid.
Sebagai pilar utama pendidikan agama di daerah masing-masing, para guru Al-Qur'an memikul amanah mulia untuk menjadi rujukan yang benar. Dengan kualitas bacaan pendidik yang senantiasa terkalibrasi, kelak akan lahir tunas-tunas generasi penerus yang mampu melantunkan ayat-ayat Allah dengan fasih, presisi, dan penuh keberkahan.